Begini Cara Mengelola Hutang Menggunung
19.39 | Label: Keuangan | 0 Comments
Cara Canggih Mengelola Hutang
19.38 | Label: Keuangan | 0 Comments
Hutang Baik vs Hutang Jahat
19.37 | Label: Keuangan | 0 Comments
Tips mengelola utang agar keuangan terjaga
Berutang, bagi sebagian orang, masih dinilai sebagai hal yang tabu. Utang di mata beberapa kalangan identik dengan ketidakmampuan keuangan dan stigma miskin alias kekurangan.
19.30 | Label: Keuangan | 0 Comments
Tanda Anda Terjebak Hutang..
Mengakui bahwa Anda terlilit utang ternyata bukan hal yang simpel.
Mungkin karena gengsi – bagi banyak orang dan budaya berutang dianggap
hal yang tidak layak, atau memang karena Anda merasa benar-benar tidak
punya masalah dengan utang yang menggunung.
Kenyataannya, semakin lama
Anda menolak mengakui memiliki masalah dengan utang, semakin dalam Anda
tenggelam di kubangan utang. Sehingga, pada saat utang menggunung, Anda
pun tenggelam di bawahnya. Pada saat itu justru jalan-jalan yang bisa
meringankan beban utang Anda seakan buntu.
Coba
baca daftar di bawah ini. Bila kebanyakan jawaban Anda ‘Iya’, maka Anda
sudah terjebak di kubangan utang, dan segeralah mencari pertolongan:
- Tagihan kartu kredit Anda membumbung tinggi sementara penghasilan Anda berkurang.
- Anda hanya mampu membayar tagihan minimum utang kartu kredit, atau bahkan di bawah minimum.
- Anda mulai berakrobat dengan membuka utang baru untuk menutupi utang lama.
- Anda punya banyaksekali kartu kredit.
- Tagihan semua kartu kredit sudah mendekati limit atau bahkan over limit.
- Penggunaan kartu kredit Anda tiap bulan melebihi apa yang bisa Anda bayar.
- Anda sengaja lembur bekerja atau mencari pekerjaan sampingan untuk melunasi utang.
- Anda tidak tahu berapa jumlah utang Anda, dan tidak mau tahu.
- Anda mulai menerima panggilan telepon dari penagih atau surat peringatan dari kreditur.
- Anda memakai kartu kredit untuk membeli kebutuhan pokok seperti makanan dan bensin, bukan karena kenyamanan dan keamanan, melainkan tidak punya uang tunai.
- Anda mulai membongkar tabungan.
- Anda berbohong kepada pasangan tentang harga barang yang Anda beli.
12.35 | Label: Keuangan | 0 Comments
Ajarkan Keuangan Kepada Anak
Mengapa seseorang boros, sementara orang yang lain mampu
bersikap hemat? Bisa jadi karena keduanya mendapatkan penddidikan
keuangan yang berbeda dari orang tua mereka.Seorang teman pernah bercerita tentang bagaimana pemilik sebuah toko swalayan besar dan terkemuka di Indonesia
menerapkan sistem bahwa dia dan seluruh anggota keluarganya – termasuk
semua anak-anaknya – harus tetap membayar bila berbelanja di toko
swalayan milik mereka.
Hal tersebut dia terapkan kepada
anak-anaknya semenjak mereka masih kecil, sehingga ketika tumbuh dewasa
kebiasaan itu tetap dijalankan dengan penuh kesadaran oleh anak-anak
Sang Pengusaha tersebut.
Apa yang dilakukan sang pengusaha
sejatinya adalah mengajarkan pendidikan keuangan kepada anak dia. Sebuah
bentuk pendidikan yang nampaknya jarang sekali diberikan oleh orang tua
sejak dini kepada anak-anak mereka.
Yang muncul kemudian adalah
anak-anak yang manja, dan perengek, yang bakalan ngambek kalau tidak
dibelikan apa yang mereka inginkan oleh orang tua. Apakah hal tersebut
merupakan kesalahan anak? Belum tentu. Bisa jadi itu adalah hasil dari
sikap orang tua sendiri terhadap uang.
Lalu, apa saja yang bisa dilakukan? Bila Anda orang tua, atau calon orang tua, simak ini:
Bekerja untuk uang. Camkan kepada anak bahwa uang
tidak datang dari langit, melainkan harus diperoleh lewat suatu usaha
yang dinamakan bekerja. Orang tua yang berangkat pagi dan pulang malam
untuk bekerja dan mencari nafkah, adalah hal yang nyata dilakukan.
Tinggal memberikan pemahaman kepada anak, betapan uang sulit dicapat, dan seyogyanya harus tidak dihambur-hamburkan. Dengan memberi pemahaman bahwa uang
harus dicari lewat bekerja, berikan tantangan sederhana pada anak untuk
“bekerja” agar bisa mendapatkan uang. Misalnya dengan meminta mereka
membantu orang tua berbisnis seperti turut menjaga warung atau warnet
milik orang tua, dan sebagainya.
Belajar menggunakan uang. Setelah anak memahami bahwa uang
didapat melalui bekerja, ajarkan pula kepada mereka cara menggunakan
uang. Caranya, dengan menanamkan pemahaman agar dalam penggunaan uang jangan sampai boros, karena, kembali ke hal di atas: untuk mendapatkan uang Anda harus bekerja. Uang
yang sudah susah payah didapat harus dibuatkan anggaran yang tujuan
utamanya adalah menabung, baru pengeluaran-pengeluaran lain seperti
untuk jajan dan jangan lupa, bersedekah.
Jelaskan soal ATM dan kartu kredit. Anak
kerap kali salah kaprah soal ATM dan kartu kredit. Untuk ATM, mereka
kerap berpikir, betapa enaknya orang tua bila ingin uang, tinggal
mengambil di mesin. Sedangkan kartu kredit, anak berpikir betapa enaknya
orang tua, bila ingin berbelanja cukup dengan memakai kartu plastik.
Kita, sebagai orang dewasa, tentu langsung bereaksi bahwa anggapan itu
tidak benar, namun anak, memercayai hal tersebut. Memberikan penjelasan
yang mendalam, bakal membantu mereka memahami fungsi kedua kartu plastik
tersebut. Harapannya, ketika mereka dewasa, salah kaprah tidak
berlanjut.
Sumber
12.34 | Label: Keuangan | 0 Comments
Kempeskan Dompet Anda
Memiliki dompet tebal bukan lagi jaminan tebal pula uang yang
disimpan di dalamnya. Kehidupan yang serba mengandalkan kartu plastik
menjadi salah satu penyebab semakin menebalnya dompet.Kartu
kredit, ATM, kartu identitas seperti KTP dan SIM, kartu NPWP, serta
kartu-kartu keanggotaan dari mulai rumah sakit, asuransi, dan membership ini itu, memadati dompet yang ukurannya tak seberapa besar.
Apalagi
dengan aktivitas keuangan yang lebih banyak mengandalkan ATM dan kartu
kredit, dompet seringkali lebih banyak diisi dengan struk ATM atau kartu
kredit ketimbang uang tunai. Akibatnya, dompet
terlihat seperti tempat sampah dengan struk ATM dan kartu kredit yang
seiring berjalannya waktu berubah warna menjadi kuning dan lecek saking
lamanya bertempat tinggal di dompet.
Belum lagi kalau Anda hobil menyimpan uang logam di dompet. Uang
logam, membuat tak hanya dompet terlihat tebal, tapi juga membuat
dompet rusak. Perhatikan bulatan-bulatan yang tercap di lapisan kulit
dompet, sesuai dengan ukuran uang logam yang disimpan.
Menipiskan
isi dompet, selain membuat penampilan dompet Anda lebih layak, juga
membuat penampilan Anda jauh lebih pantas. Paling tidak, saat dompet
dikeluarkan dari kantong atau tas, tidak lagi terdapat hal-hal yang
memalukan. Bagaimana caranya? Simak tiga saran mengempeskan dompet Anda
berikut ini:
Pisahkan kartu. Pilih dua sampai tiga kartu yang sering Anda gunakan sehari-hari – biasanya KTP, kartu kredit dan dan
ATM utama – dan letakkan di slot kartu utama pada dompet. Kartu-kartu
lain yang jarang digunakan, atau baru sebulan sekali Anda gunakan,
ditumpuk menjadi satu dan simpan secara bersamaan di salah satu bagian
dompet. Dengan tidak meletakkan seluruh kartu pada slot kartu di dompet
akan mengurangi bagian yang menebal karena lapisan kulit dompet menjepit
satu kartu dengan yang lain, sebanyak kartu yang disimpan pada slot
kartu. Coba saja, dan dijamin dompet Anda akan mengempes.
Abadikan struk.
Jaman sudah modern, tidak perlu lagi menyimpan struk berpuluh-puluh
lembar di dompet. Kalau Anda merasa struk tersebut penting, cukup
abadikan dengan kamera
ponsel atau gadget. Buat folder berdasarkan tahun dan bulan untuk
menyimpan foto-foto struk. Anda bisa juga mengirmkan foto ke email
pribadi, mengunduhnya, lalu menyimpan di laptop
dengan sistem folder yang serupa, demi kenyamanan. Setelah melakukan
itu, tahapan terberat harus Anda lakukan: buang struk dari dompet.
Awalnya pasti sulit, namun lama kelamaan bakal lebih mudah. Dan yang
terpenting, dompet terlihat langsing dan lebih cantik.
Singkirkan uang logam. Yup, singkirkan uang logam dari dompet. Berjanji pada diri sendiri, tak akan lagi pernah menyimpan uang logam di dompet. Alih-alih menyimpan di dompet, simpan di tas, kantong, mobil, atau berikan sebagai tip atau sedekah.
Sumber
12.32 | Label: Keuangan | 0 Comments
Agar Tak 'Kalap' Saat Belanja
Awalnya, hanya ingin membeli bedak, tapi, saat melewati toko sepatu, Anda mampir, melihat-lihat, lalu membeli karena sedang sale.
Kejadian ini berulang di toko-toko berikutnya, sehingga Anda akhirnya
pulang dengan beberapa tas belanjaan. Padahal, sesampainya di rumah,
Anda sadar bahwa Anda tidak betul-betul membutuhkan barang-barang itu.
Sering mengalaminya?
Agar bisa menggunakan uang dengan bijak, sebaiknya Anda menerapkan kebiasaan baik berikut ini:
1. Kurangi biaya 'kemewahan kecil-kecilan' yang setiap hari Anda keluarkan
Seperti
minum kopi di kafe, mengobrol panjang lebar di ponsel, membeli rokok.
Kalau dijumlah, dalam setahun pengeluaran semacam ini bisa puluhan juta rupiah!
2. Praktekkan cara 'belanja sehat'
Biasakan
mengecek harga terlebih dahulu, serta membeli barang kebutuhan
sehari-hari dalam ukuran besar (jatuhnya lebih murah). Manfaatkan kupon
diskon, dan bandingkan merek dan harga.
3. Hindari mentalitas 'obral'
Kalau
Anda membeli barang seharga Rp 100 ribu dengan Rp 60 ribu saja, bukan
berarti Anda menghemat Rp 40 ribu. Barang itu barulah murah jika Anda
memang membutuhkannya. Manfaatkan masa obral untuk membeli benda
kebutuhan sehari-hari.
4. Lebih murah belum tentu berarti hemat
Kalau
benda yang murah itu mudah rusak dan membutuhkan perbaikan berkala,
artinya tidak murah. Lebih baik membeli barang yang lebih mahal tapi
berkualitas baik sehingga lebih awet.
5. Abaikan godaan belanja lebih banyak begitu Anda naik gaji
Ada dua cara untuk menjadi kaya:
mencari lebih banyak uang atau mengurangi kebutuhan. Memang jauh
berbeda, tapi tetap ada jalan tengahnya. Kalau Anda tidak otomatis
menambah pengeluaran ketika naik gaji, Anda akan menemukan 'kekayaan'
lain -rasa damai- karena Anda bisa menyimpan kelebihan yang itu.
Bukankah sebelumnya Anda bisa hidup nyaman tanpa itu?
Kartu kredit
Pakar keuangan menyarankan, jangan memiliki kartu kredit lebih dari dua. Selain membingungkan, Anda pun cenderung berbelanja lebih banyak.
Pilih kartu kredit
dengan cerdik. Pengelola kartu kredit sekarang saling bersaing dengan
menawarkan hadiah atau diskon khusus. Pilihlah yang sesuai dengan
kebutuhan Anda. Kalau Anda sering makan di luar misalnya, pilih kartu
yang menawarkan diskon khusus di banyak restoran.
Beberapa pengelola kartu kredit menawarkan potongan harga (cash back) berupa presentase dari jumlah yang Anda belanjakan. Potongan harga lebih berguna dibandingkan dengan point hadiah yang belum tentu Anda gunakan.
Sumber
12.31 | Label: Keuangan | 0 Comments
Perbesar Pendapatan, Perkecil Pengeluaran
Karena di forum terbuka, biasanya jarang ada peserta yang secara terang-terangan untuk ‘membuka’ kondisi keuangan pribadi dan keluarganya. Maka Hari biasanya balik bertanya, ‘Dari uang Rp1,2 juta tersebut dialokasikan untuk apa saja? Jawaban standar adalah uang tersebut banyak untuk keperluan konsumsi sehari-hari seperti sandang dan pangan.
Lalu Hari akan melanjutkan bertanya, ‘Siapa yang memegang kendali pengaturan keuangan?’ Biasanya dijawab, ‘Isteri. Itu sebabnya isteri kerap dipersepsikan sebagai menteri keuangan, bendahara keluarga dan sebutan-sebutan lainnya.’
Menurut Hari ini adalah hal yang runyam, karena suami belum melek finansial, dan isteri juga belum memiliki ilmu tentang pengelolaan keuangan keluarga (personal finance). “Disini mulai terletak jurang pemisah antara permasalahan keuangan, akibat dari pendapatan yang tidak bisa mengejar laju inflasi dan kenaikan harga-harga barang di pasaran dengan kondisi si pengatur keuangan keluarga,” papar Hari.
‘Apakah bisa menabung dengan pendapatan 1,2 jt tersebut?’ adalah pertanyaan hari kemudian, dan sudah bisa ditebak kalau jawabannya, ‘Boro-boro mau menabung, untuk mencukupi kebutuhan kehidupan sehari-hari saja tidak pernah cukup!’.
Walhasil, dari tahun ke tahun, hidup layaknya berputar pada satu lingkaran, tidak pernah beranjak ke luar lingkaran tersebut.
Yang paling menggelisahkan Hari adalah apakah ilmu perencanaankeuangan (financial planning) yang dia pelajari bisa menyelesaikan masalah tersebut?
“Karena rata-rata klien yang kami temui dan bantu memecahkan masalah, minimal penghasilannya di atas Rp5 juta,” papar Hari. “Dan di sini letak tantangannya, yaitu menyelesaikan masalah dengan pemberdayaan keluarga.”
Untuk Itu, Hari menjelaskan bahwa sebetulnya ada tiga cara yang bisa dilakukan, yaitu:
Bangun mind set ‘ingin berubah’. “Mindset adalah pola pikir atau cara Anda bertindak berdasarkan masukan yang kita terima, entah dari guru, orang tua, penasihat keuangan atau lingkungan yang mendidik Anda,” jelas Hari. “Pertanyaannya, maukah kita berubah?”
Hari lalu mengilustrasikan: Ketika dalam sebuah pelatihan dia mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah. Lalu Hari bertanya kepada peserta pelatihan, “Bapak dan ibu, siapa yang mau uang di tangan saya?” Hampir semuanya menjawab, “Saya!” Lalu Hari mengulangi sekali lagi, “Siapa di ruangan ini yang mau uang seratus ribu rupiah?” Lagi-lagi banyak yang menjawab, “Saya!”
Tetapi, jawaban itu sebatas ucapan, ‘Saya!’ tanpa mau bertindak dan bergerak menuju ke Hari, sang empunya uang. “Dengan kata lain, Anda semua ingin punya uang, tetapi tidak mau take action,” jelas Hari. “Apakah Anda ingin kondisi keuangan keluarga seperti itu terus?”
Jika jawabannya tidak, menurut Hari, mulai hari ini Anda harus memutuskan untuk hidup hanya dari 90% penghasilan Anda, sedangkan sisanya yang 10% Anda tabung untuk masa depan perubahan keuangan Anda.
‘Lho, apa tidak semakin mempersulit keuangan keluarga?’ Hari menjelaskan bahwa coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah Anda ingin hidup seperti itu selamanya? Tentu tidak. Jadi, jika Anda ingin berubah, menabunglah di awal ketika mendapatkan gaji atau penghasilan dari usaha Anda. Baru setelah itu untuk mulai menaikkan persentasenya perlahan-lahan.
Biasakan membagi porsi keuangan ketika sulit. Ketika Anda hidup dari hanya 90% penghasilan rutin atau bulanan, maka langkah selanjutnya adalah menginventarisir keahlian, bakat, hobi dan keterampilan Anda yang lain, yang bisa dikonversikan menjadi ide yang menghasilkan uang.
“Misal, bila pasangan bisa menjahit, kenapa tidak menerima pesanan jahitan dengan cara menyewa atau meminjam mesin jahit orang lain, yang dibayar berdasarkan sistem bagi hasil,” kata Hari.
Lalu, sekalipun Anda sedang dalam kesulitan keuangan, jangan berhenti berandai-andai untuk membagi alokasi keuangan Anda untuk tujuan keuangan masa mendatang. Namanya juga harapan, boleh saja Anda menuliskan impian keuangan, misalnya ingin pergi naik haji. Hal ini lebih baik ketimbang sudah tidak ada uang, Anda tidak punya harapan pula. Cara ini membuat Anda bersemangat melakukan perbaikan kondisi keuangan keluarga.
Dengan menuliskan tujuan keuangan dikala sulit, ini menandakan kita memiliki
Paling tidak ada tiga jenis alokasi keuangan yang dapat Anda lakukan, yaitu:
a. Proteksi. Untuk melindungi kehidupan keuangan Anda seperti ketika anak sakit, suami atau isteri terkena PHK dan sebagainya. Bisa dalam bentuk dana darurat atau asuransi.
b. Akumulasi. Prinsip sedikit-sedikit jadi bukit bisa Anda terapkan untuk tujuan keuangan kita. Tujuan Anda harus dikonversi dalam bentuk angka-angka keuangan. Misalnya, Anda ingin pensiun di usia 51, sementara saat ini usia Anda sudah menginjak 35. Maka ada jeda waktu 16 tahun untuk mempersiapkan diri, berapa yang harus ditabung dan diinvestasikan, menjadi berapa kira-kira uang tersebut di tahun 2029 – dengan asumsi tingkat inflasi 10% per tahunnya, lalu dijabarkan berapa rupiah per bulannya untuk konsisten menabung dan investasi, dengan instrumen investasi apa saja yang memungkinkan tujuan keuangan kita tercapai.
c. Distribusi. Perlu berpikir dari akhir, jika anak cucu kita nanti akan jadi apa kondisi keuangannya, maka dimulai dari diri kita hari ini, tentunya investasi ilmu yang utama dan harta.
Naikkan penghasilan. Masalah dari kebanyakan karyawan adalah hanya memiliki satu income (pendapatan). Nah, untuk bisa menaikkan penghasilan maka Anda harus mempunyai multiple income. Kalaupun saat ini tidak punya, yang paling penting adalah membiasakan diri Anda dengan hal-hal yang benar terlebih dahulu, bukan membenarkan hal-hal yang biasa.
“Dengan membiasakan hal-hal yang benar, tandanya Anda mau berubah dari kondisi keuangan yang tidak berdaya (financial helplessness) menjadi sehat keuangan (financial health),” jelas Hari. Nah, dengan memahami akar masalah keuangan tersebut, Anda akan menemukan solusi pengelolaan keuangan untuk penghasilan Rp1,2 juta tadi.”
Sumber
12.29 | Label: Keuangan | 0 Comments
Berhemat Tak Perlu Tersiksa
Kala lonjakan pengeluaran tidak diimbangi dengan kenaikan
pendapatan, itu saatnya Anda harus melakukan penyesuaian gaya hidup
menjadi lebih masuk akal. Terpangkasnya pengeluaran
membuat kita berpikir berkali-kali setiap kali hendak membeli suatu
barang. Barang kebutuhan pokok menjadi prioritas, sementara pembelanjaan
yang bersifat spontan harus ditinjau ulang.
Dengan kata lain,
Anda harus melakukan penghematan. Namun yang menjadi pertanyaan besar:
Dapatkah saya berhemat tanpa perlu tersiksa?
Menurut Mike Rini, CFP, financial planner dari MRE Financial & Business Advisory - PT Mitra Rencana Edukasi, jawabannya bisa. Bagaimana? Simak saja cara-cara berikut ini:
Mengendalikan hasrat atau keinginan. ”Bedakan
antara keinginan dan kebutuhan,” tegas Mike. ”Berbelanjalah berdasarkan
kebutuhan Anda, dan perhitungkan mana kebutuhan pokok yang mutlak dan
mana kebutuhan realistis yang masih bisa disesuaikan anggarannya.”
Jangan jadikan gengsi sebagai prioritas dalam berbelanja.
Keterbatasan anggaran, menurut perencana keuangan yang berkedudukan di
Jakarta Selatan itu, membuat perbaikan perilaku pembelanjaan semakin
penting. ”Mungkin tidak ada anggaran lagi untuk membeli pakaian, sepatu
atau aksesori bermerek, juga gonti-ganti ponsel yang hanya bertujuan
sekadar menjaga gengsi,” kata Mike. ”Untuk itu, terapkanlah kiat-kiat
merawat barang-barang yang sudah kita miliki agar bisa tampil rapi dan
hemat biaya.”
Kurangi frekuensi bepergian ke pusat perbelanjaan.
Menurut Mike, Anda harus membuat daftar kebutuhan terlebih dahulu, dan
berbelanja barang yang hanya terdapat dalam daftar belanja. ”Tidak perlu
selalu mengajak si kecil ikut berbelanja, dan usahakan agar langsung
menuju rak atau konter yang sudah direncanakan,” saran Mike.
Perhatikan berbagai cara menghindari sakit. Tujuannya
agar bisa menghindari biaya kesehatan yang mahal. Misalnya saja, Anda
harus mencoba menghindari stres karena banyak penyakit yang terpicu oleh
gangguan psikis. Mike menyarankan agar Anda menerapkan pola makan
sehat, juga melakukan olahraga secara rutin untuk meningkatkan kebugaran
tubuh tanpa bantuan suplemen.
Lakukan strategi meminimalkan beban rekening. Misalnya,
beban rekening listrik, telepon dan air. ”Caranya, dengan menggunakan
alat listrik berdaya rendah dan hematlah penggunaanya,” ujar Mike.
”Terapkan juga cara-cara penghematan telepon biasa dan pulsa HP,
misalnya dengan membiasakan membicarakan hanya hal-hal penting di
telepon, menggunakan kartu prabayar, mengurangi kegiatan chatting di
internet.” Mike juga menyarankan untuk menghemat penggunaan air dengan
menjadwalkan penggunaan pompa listrik, menggunakan air satu sampai dua
ember untuk mencuci mobil karena selang air membuat air bersih banyak
terbuang.
Rekreasi perlu, namun tidak harus mahal. Cobalah
menggali hakikat rekreasi dari hal-hal yang sederhana. Misalnya,
melakukan kegiatan bersama keluarga di rumah. ”Intinya, pemangkasan
biaya rekreasi tidak harus mengurangi makna rekreasi itu sendiri,” tegas
Mike.
Menurut Mike, masih banyak sekali ide penghematan dalam
rangka menyiasati kenaikan harga saat penghasilan belum bertambah.
Dengan sedikit kreativitas dan kerja sama seluruh anggota keluarga, maka
penghematan bisa membantu Anda menyeleseaikan masalah itu dalam jangka
pendek, sambil secara pelan-pelan dalam jangka panjang Anda melakukan
usaha-usaha menambah penghasilan.
Sumber
12.27 | Label: Keuangan | 0 Comments
Manajemen Amplop
“Kalau gaji Anda di atas UMR dan keuangan Anda masih morat-marit, mungkin yang salah bukan penghasilan, tetapi pengeluaran Anda yang berhubungan dengan gaya hidup,” ungkap Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dan pakar ekonomi mikro dan keluarga. Terlebih lagi dengan berbagai fasilitas perbankan, terutama kartu debit atau ATM, otomatis kita lebih sulit mengontrol pengeluaran.
Oleh karena itu, menurut Aidil, perlu diterapkan cara konvensional untuk membenahi kondisi finansial, yaitu dengan menggunakan amplop. Anda hanya perlu membagi penghasilan untuk dimasukkan secara berurutan ke tiga amplop: merah, kuning dan hijau.
Pertama, masukkan 10-25% penghasilan bulanan ke amplop merah untuk investasi jangka panjang, yang dibagi lagi ke sejumlah pos, seperti dana pendidikan anak, pensiun dan membeli rumah atau mobil. Berikutnya, masukkan 20-30% gaji ke amplop kuning untuk pengeluaran tahunan, dengan pos-pos pembayaran pajak, asuransi dan simpanan dana darurat. Setelah kedua amplop tadi terisi, barulah Anda boleh mengisi amplop terakhir dengan sisa gaji. Amplop itu berwarna hijau dan diperuntukkan bagi pengeluaran yang bersifat bulanan, seperti transportasi, makan, minum dan cicilan.
Tetapkan jumlah uang untuk tiap pos dalam masing-masing amplop. Kalau ada kelebihan penggunaan di satu pos, kekurangannya harus diambil dari pos lain di amplop yang sama, sehingga Anda pun harus berhemat.
Meski memiliki tabungan di bank, amplop merupakan cara manual mendisiplinkan pengeluaran, apalagi yang bersifat bulanan. “Bulan pertama digunakan untuk mengecek kondisi finansial. Bulan-bulan berikutnya baru boleh menggunakan satu rekening untuk pengeluaran bulanan, dan satu lagi untuk pengeluaran tahunan,” jelas Aidil.
Berhubung hanya isi amplop hijau yang boleh dikeluarkan sehari-hari, percayalah, Anda akan lebih berhati-hati mengeluarkan uang untuk hal-hal yang menjadi keinginan, bukan kebutuhan. Soalnya, begitu jumlahnya menipis, Anda otomatis berpikir dua kali untuk mengeluarkannya.
Sumber
12.25 | Label: Keuangan | 0 Comments
Ongkos Punya Mobil Sendiri Ternyata Lebih Mahal
Mobil dapat menjadi musuh utama bagi kantong Anda setiap bulannya.
Pekerja di Amerika Serikat (AS) rata-rata berkendara sejauh 15.000 mil setiap tahunnya dalam sedan berukuran sedang seperti Toyota Camry atau Ford Fusion. Jika Anda memiliki pola berkendara yang sama, Anda harus merogoh rata-rata $750 setiap bulannya atau $9.150 per tahun untuk bensin, perawatan, ban, asuransi penuh, biaya SIM dan registrasi, serta biaya lainnya.
Ini berdasarkan laporan tahunan klub otomotif AAA atas biaya berkendara di AS 2013. Datanya didasarkan pada pembelian mobil dan lama mengendarainya selama lima tahun dengan jarak 75.000 mil.
Menurut AAA jika Anda memiliki SUV biayanya sekitar $967 per bulan.
Ada juga biaya dadakan yang tidak dihitung oleh AAA. Ini seperti mencuci mobil setiap bulan seharga $10 dan biaya parkir sekitar $40. Biaya untuk jenis parkir lainnya dapat mencapai $300 setiap tahunnya. Ini tidak termasuk biaya kena tilang.
Anda mungkin harus meminjam dari bank sebesar $40.000 untuk membangun garasi seluas 400 kaki persegi.
Rata-rata orang Amerika menghabiskan 50 menit setiap harinya bolak-balik kantor-rumah. Dengan ini saja Anda telah menghabiskan sekitar $25.000 per tahun untuk waktu yang terbuang.
Setelah 10 tahun, waktu Anda yang terbuang bernilai sampai $52.000. Ini belum termasuk biaya pembelian mobil sebesar $94.500, tak termasuk garasi.
“Biaya transportasi bervariasi tergantung wilayah,” kata Linda Young, direktur riset di Center for Neighborhood Technology (CNT) di Chicago.
Kota dengan harga properti tertinggi di AS, San Fransisco dan New York, merajai peringkat CNT sebagai kota dengan biaya transportasi paling terjangkau. Kota yang lebih besar dan tersebar, seperti Houston atau Tampa, menjadi tidak murah jika dilihat dari biaya transportasi.
“Biaya transportasi berkurang di tempat yang padat, dekat kantor, dengan moda transportasi bervariasi. Di wilayah yang lebih besar, biayanya lebih tinggi karena orang memiliki lebih banyak mobil dan jarak berkendaranya lebih jauh,” kata Young.
Berikut beberapa tips untuk mengurangi biaya akibat mobil Anda.
1. Jangan beli yang tidak Anda butuhkan
Pertimbangkan pendanaan jangka panjang sebelum membeli mobil. Menurut AAA, perbedaan biaya tahunan antara sedan kecil dan menengah setiap tahunnya mencapai lebih dari $2000. Perbedaan antara sedan menengah dan besar juga serupa.
“Di ruang pameran mungkin bedanya $5000, tapi dalam jangka panjang bisa sampai ratusan ribu dollar,” kata Michael Calkins, manajer dan teknisi di AAA Florida. Ia mengompilasi angka dalam laporan tahunan “Your Driving Cost”, juga rilisan AAA.
2. Jangan beli mobil baru
“Pengeluaran satuan terbesar adalah jatuhnya harga —ini faktor yang kerap diabaikan saat membeli mobil,” kata Calkins.
Meski tingkat jatuhnya harga mobil bervariasi, biasanya “di tahun pertama harga mobil jatuh sekitar 20%,” kata Ron Montoya, penasihat konsumen di Edmunds.com di California.
Menurut Calkins, untuk mengurangi harga, Anda sebaiknya membeli mobil bekas yang nilainya tetap tinggi, seperti Honda Accord atau Toyota Camry.
“Mercedes, BMW, atau Lexus adalah mobil yang sangat baik, tapi harganya jatuh drastis dalam dua tahun pertama,” katanya.
3. Baca manual pemakaian mobil.
Biaya perbaikan memang lebih besar untuk mobil lama. Meski demikian, “semakin lama Anda memiliki mobil, biaya kepemilikan dan operasinya lebih kecil,” kata Calkins. “Mobil-mobil saat ini dapat diandalkan dan dapat menempuh 100.000 mil tanpa perbaikan besar-besaran.”
Namun jangan merawat mobil Anda dengan berlebihan dengan ganti oil dan sejenisnya. Mobil telah berkembang banyak dalam puluhan tahun terakhir. Menurut Calkins, mesin mobil sekarang lebih kuat dan olinya bekerja lebih baik.
Anda juga disarankan membaca manual bagi pemilik mobil.
“Selalu ada bagian untuk perawatan selanjutnya yang dibutuhkan mobil,” kata Montoya. Konsultasikan kepada bengkel Anda soal perkiraan biaya.
Ada beberapa aplikasi yang membantu Anda melacak penggunaan bensin seperti Fuelly atau Road Trip, yang dipakai Montoya.
4. Tanya biaya asuransi
Sebelum membeli mobil baru, konsultasikan pada perusahaan asuransi soal model yang Anda inginkan. Anda mungkin kaget dengan jawaban asuransi Anda.
“Anda akan menganggap mobil ekonomi subkompak akan sangat murah biaya asuransinya, tapi itu tidak selalu demikian,” kata Calkins. “Sebaliknya, dengan mobil mahal seperti Mercedes, biaya asuransinya akan wajar karena pemilik mobil seperti itu biasanya mengendarainya dengan sangat hati-hati.”
Sumber
06.31 | Label: Keuangan | 0 Comments
Jangan Kaget Kalau Uang Banyak Datang
Ketika ada uang dalam jumlah besar masuk ke rekening tabungan – misalnya bonus atau komisi, banyak orang yang akan tergoda untuk menggunakan uang tersebut untuk apapun kecuali masa depan mereka. Awalnya membeli mobil, perhiasan, gadget, untuk diri sendiri, lalu ketika uang masih banyak di tabungan, berkembang menjadi membelikan hadiah mahal untuk orang lain yang kita anggap berjasa. Akhirnya adalah uang dihabiskan seolah-olah membalas dendam atas segala sesuatu yang dahulu tak terbeli.
Kenyataannya, menyimpan uang dalam jumlah besar di tabungan sangat tidak disarankan, karena akan sangat menggoda untuk digunakan. Itu karena uang di tabungan sangat mudah diambil.
Nah, agar Anda tidak mengalami hal serupa, coba lakukan tip berikut ini:
Buat pola. Ciptakan sebuah pola penempatan uang yang berlaku dalam kondisi apa saja. Misalnya, ketika Anda menerima gaji dari kantor, otomatis 10 persen masuk ke tabungan pendidikan anak, 10 persen untuk tabungan pensiun, 20 persen masuk ke dana darurat, dan 60 persen sisanya untuk pengeluaran rutin bulanan. Nah, begitu Anda menerima bonus, berlakukan juga pola tersebut. Masih ada sisa 60 persen – yang pada pola rutin seharusnya untuk pengeluaran rutin? Ulang lagi pola tersebut, sampai akhirnya hanya tersisa 20 persen yang boleh Anda hambur-hamburkan sebagai “hadiah” untuk diri Anda sendiri.
Anggap uang hilang. Seberapa penting Anda memandang masa depan, adalah dasar dari ide ini. Kalau masa depan sangat penting bagi Anda, melebihi kecintaan Anda pada masa kini, begitu uang datang, langsung masukan ke tabungan pensiun. Pundi-pundi yang tercetak di buku tabungan pensiun Anda sudah cukup membuat Anda mengembangkan senyum sangat lebar dan memberi kepuasan batin. Kalau Anda tidak mau repot, berikan nomor rekening tabungan pensiun kepada bagian keuangan di kantor, untuk mentransfer bonus Anda. Semakin sedikit sentuhan Anda pada uang, semakin kecil pula keinginan untuk menggunakannya.
Gunakan untuk berinvestasi. Eits, jangan jenis investasi yang tahu-tahu muncul entah dari antah berantah, melainkan jenis investasi yang sudah Anda jalankan selama ini dan terbukti memberi hasil yang cukup signifikan. Sebut saja reksadana atau saham, atau kalau mencukupi, properti. Anda tetap dapat menikmati uang besar hasil kerja Anda tersebut dari profit yang dihasilkan oleh investasi-investasi tersebut.
Sumber
01.18 | Label: Keuangan | 0 Comments
Mengubah Pemahaman Tentang Uang
Pepatah Barat mengatakan bahwa money is the roots of all evil. Uang adalah penyebab utama segala kejahatan.
Nah, coba Anda jawab pertanyaan ini: Apakah Anda yang memiliki uang, atau jangan-jangan justru uang yang memiliki Anda?
Kalau Anda menjawab yang pertama, coba ingat apakah Anda berani dan rela berbohong demi uang? Kalau iya, well, justru Anda yang dimiliki uang.
Menurut Tessie Setiabudi dan Joshua Maruta, penulis buku Pensiun Gaul – 7 Langkah Jitu Mempersiapkan PHK, VRP atau Pensiun (www.pensiungaul.com), sikap kita terhadap uang memengaruhi kualitas hidup kita.
Dan itu semua kelak berimbas pada sikap Anda saat pensiun: apakah Anda bakal berfoya-foya lantaran merasa hidup tak kan lama lagi dan merasa terlepas dari beban kerja sepanjang hidup? Atau hemat habis-habisan karena takut hidup berkekurangan? Atau justru pensiun dengan bijak, karena selama ini menolak diperbudak uang dan melihat uang hanya sebagai alat bayar, dan alat kebajikan untuk hidup orang lain?
Mereposisi pemahaman soal uang, disarankan oleh Tessie dan Joshua untuk dilakukan sesegera mungkin. Caranya, dengan memahami bahwa uang terdiri dari komponen utama, yaitu ‘menerima’, ‘memberi’ dan ‘mengelola’. Selain itu Anda juga wajib menumbuhkan kesadaran bahwa uang hanyalah titipan.
01.17 | Label: Keuangan | 0 Comments
Jangan Bangkrut Saat Pensiun
Banyak orang menganggap bahwa jumlah uang pensiun yang besar akan menjamin masa pensiun bebas masalah.
Karena itu ia mengimbau agar Anda yang akan segera memasuki masa pensiun untuk memprioritaskan pelunasan utang-utang yang ada. “Jangan sampai saat pensiun justru dibebani kewajiban membayar utang,” tegasnya.
Selanjutnya, sisihkan uang pensiun sebesar tiga sampai empat kali pengeluaran bulanan. Hal itu untuk membiasakan pola hidup seperti sebelum pensiun. “Anggap saja sebagai gaji bulanan Anda,” jelas Eko. “Sisanya disimpan sebagai cadangan, misalnya dalam bentuk deposito.”
Selama tersimpan, Anda bisa merencanakan penggunaan uang itu nanti. Menurut Eko, cara terbaik memanfaatkan uang pensiun adalah sebagai modal usaha atau investasi. “Setidaknya Anda memiliki aset yang mampu menghasilkan uang bagi Anda,” sarannya
01.16 | Label: Keuangan | 0 Comments
5 Tahap Kehidupan Keuangan
Apa yang benar berkaitan dengan pengelolaan uang Anda pada saat ini, bisa jadi salah pada 10 tahun ke depan. Pasalnya, saat Anda melalui tahapan kehidupan yang berbeda, tujuan keuangan Anda pun mau tak mau pasti berubah. Artinya, apa yang baik dan benar pada saat Anda baru mulai bekerja, bakal berubah saat Anda berkeluarga. Apa yang baik dan benar saat Anda berada di puncak karier, pasti berubah saat pensiun.
Kehadiran perencana keuangan profesional dapat membantu Anda menyeimbangkan apa yang Anda butuhkan saat ini, dan mempersiapkan untuk masa mendatang. Itu sebabnya, simak tip pengelolaan keuangan berdasarkan tahapan dalam kehidupan Anda dan tujuan keuangan yang kerap kali mengikuti:
Lulus sekolah dan mulai bekerja. Anda mungkin tengah mengikuti pelatihan kerja; kuliah D3 atau S1; memulai karier; atau menemukan pasangan hidup. Pada tahap ini biasanya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.
Tujuan keuangan: Melunasi biaya sekolah atau kuliah; membeli kendaraan; mulai menabung; membayar utang; membangun kredibilitas kredit di mata lembaga keuangan.
Berkeluarga dan mulai menapaki karier. Anda tengah menikmati menjadi suami atau istri; membangun karier; memulai keluarga; menabung untuk dana pendidikan anak. Umumnya pada tahap ini pendapatan mulai meningkat.
Tujuan keuangan: Membeli rumah dan memiliki asuransi jiwa; berupaya mengurangi pajak; meningkatkan tabungan; menyiapkan surat wasiat; mengikuti program tabungan persiapan pensiun; memulai usaha baru.
Persiapan pensiun. Pengeluaran mulai turun, dan tabungan mulai bisa meningkat. Jika Anda memiliki anak, maka Anda akan membantu membayar uang kuliah mereka, dan membantu dana pernikahan. Anda juga mungkin bakal membantu membelikan rumah untuk anak.
Tujuan keuangan: Melunasi cicilan rumah dan utang lain; meningkatkan tabungan pensiun; mengkuliahkan anak; memulai usaha; merencanakan pensiun.
Awal pensiun. Anda mulai mengurangi posrsi kerja, dan kondisi kesehatan Anda yang baik memungkinkan Anda untuk melakukan gaya hidup aktif, seperti traveling, menjadi sukarelawan, atau bekerja paruh waktu.
Tujuan keuangan: Memulai usaha baru; memakai tabungan dan investasi pensiun sebagai pendapatan; mengelola pajak; mengelola tabungan; memeriksa ulang surat wasiat dan rencana pemakaman.
Pensiun berjalan. Anda mulai kesulitan bergerak, dan mengalami berbagai masalah kesehatan.
Tujuan keuangan: Memaksimalkan pajak; mengelola tabungan sampai habis; merencanakan pemakaman; mempertimbangkan pilihan tempat untuk tinggal.
Dengan semua perubahan tersebut, Anda bakal mendapati bahwa diperlukan saran atau produk keuangan yang dapat memenuhi kebutuhan dan tujuan. Untuk itu, lakukan tahapan di bawah ini:
- Melakukan diskusi dengan penasihat, jika Anda punya.
- Bertanya kepada teman atau orang sebaya, bagaimana cara mereka menangani isu keuangan.
- Cari tahu apakah di tempat kerja Anda ada fasilitas untuk mendiskusikan hal tersebut.
- Cari tahu penasihat seperti apa lagi yang Anda butuhkan.
Ingat, tujuan Anda akan berubah sejalan Anda melakukannya, demikian pula dengan tujuan keuangan. Saat perubahan terjadi dalam hidup Anda, lakukan segera peninjauan terhadap rencana keuangan Anda untuk memastikan itu semua dapat membantu di kemudian hari, demi mencapai tujuan Anda. Anda harus mencari bantuan penasihat sesuai dengan kebutuhan. Bila tidak, cari yang lain.
Sumber
01.16 | Label: Keuangan | 0 Comments
Perilaku Keuangan Anak = Perilaku Keuangan Orang Tua
Anak-anak adalah cerminan orang tua. Dan hal tersebut tak terkecuali dengan perilaku keuangan anak. Bagi anak-anak, mempelajari perilaku keuangan orang tua sangatlah mudah, karena hal tersebut yang setiap hari mereka lihat dan amati. Runyamnya, orang tua seringkali tidak menyadari bahwa perilaku keuangan tersebut dilihat dan diamati anak-anak mereka.
Karena sering melihat dan mengamati, anak-anak kemudian meniru perilaku keuangan orang tua tersebut, karena menganggap bahwa itu adalah perilaku keuangan yang benar dan tepat. Maklum, anak-anak sangat memercayai perilaku orang tua.
Jadi, apa saja perilaku keuangan orangtua yang harus diwaspadai agar tidak menular kepada anak-anak Anda? Simak saja:
Mudah berutang. Entah berutang secara langsung kepada orang lain – seperti berutang di toko langganan, maupun menggunakan kartu kredit. Biasakan membayar secara tunai, dan bila terpaksa sekali harus berutang atau menggunakan kartu kredit, hendaknya saat anak-anak tidak di sekitar Anda.
Menjadi pembeli impulsif. Coba pikir, pelajaran apa yang hendak Anda tanamkan pada anak, ketika Anda kerap membeli sesuatu secara impulsif, hanya karena tawaran diskon, atau karena Anda menyukai suatu barang yang sebetulnya tidak Anda butuhkan. Jadi jangan heran bila suatu saat anak akan merengek minta diajak ke big sale suatu mal.
Pemboros ulung. Anak Anda selalu melihat Anda berbelanja, tanpa pernah melihat Anda sekalipun menabung. Seolah uang datang dengan mudah sehingga Anda juga mudah menghambur-hamburkannya dan memperoleh julukan pemboros ulung. Ajak anak Anda ke bank untuk menemani Anda menabung, atau setidaknya ke anjungan tunai mandiri (ATM) untuk menyetor. Dengan demikian, mereka bisa belajar bahwa ATM atau bank bukan hanya tempat menarik uang, melainkan juga tempat menyetor uang untuk ditabung.
Sumber
01.15 | Label: Keuangan | 0 Comments
5 Cara Cerdas Redakan Stres Karena Utang
Kekhawatiran soal uang dapat memicu tekanan mental dan fisik. Utang – salah satu soal keuangan – ternyata memberikan dampak yang kurang baik pada kesehatan mental dan fisik.“Utang adalah salah satu penyebab stres dalam hidup yang tidak dapat hilang begitu saja,” ujar Kelly McGonigal, psikolog kesehatan dari Stanford University. “Yang bahaya dari utang adalah betapa kronis dan menyerapnya hal itu, Kebanyakan penyebab stres dalam hidup – kecelakaan mobil, perceraian, kematian anggota keluarga – terjadi, kemudian selesai. Tubuh kita didesain untuk merespon keadaan darurat ini, lalu bangkit kembali. Sementara berutang uang dapat menyebabkan Anda berada di posisi tidak dapat keluar.”
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki utang, pada umumnya membutuhkan perawatan kesehatan yang lebih. “Utang tak hanya buruk untuk kesehatan secara keseluruhan: Jumlah yang Anda khawatirkan, tapi pada saat yang sama ada perasaan tak berdaya,” ujar Kelly.
Namun kunci secara emosional, psikologis dan perilaku tentang bagaimana Anda mengambil keputusan finansial menunjukan ada cara yang sehat untuk mengatur dan menghabiskan uang. Yang ternyata juga mampu mengurangi secara signifikan rasa stres yang Anda alami.
Mempunyai pemahaman yang benar tentang uang. Menurut David Krueger, seorang pelatih keuangan dan mantan psikiater di Houston, Texas, kebanyakan dari kita menggunakan uang “mengatakan” siapa kita. “Anda memberikan uang makna untuk diri Anda, dan menggunakan uang setiap hari untuk menceritakan tentang diri Anda, misalnya soal kebebasan, kekuasaan, dan bukti kesuksesan atau sebagai jalan menuju kesempatan.” Identifikasikan hubungan Anda dengan uang, lalu gali lebih dalam apa saja nilai dari uang. Tanyakan kepada diri Anda: kenapa barang bermerek yang mahal begitu penting bagi imej saya? Mengapa memiliki uang sangat penting sampai-sampai saya harus bekerja sampai tengah malam? Hati-hati dengan jawaban Anda, dan tuliskan di selembar kertas jwaban tersebut. Hal ini akan membantu Anda memiliki pemikiran yang tepat tentang uang, di mana tahap awal adalah mengambil alih kembali kendali bagaimana Anda menghabiskannya. “Begitu pikiran Anda tepat, baru Anda dapat membuat sebuah rencana untuk menyelesaikan permasalahan,” tegas David.
Mengenali bahwa utang menciptakan kebebasan semu. “Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa orang yang stres justru ingin mengambil lebih banyak utang untuk merasa berkuasa,” ujar Kelly. Jadi, sekalipun Anda telah menghabiskan limit kartu kredit, misalnya, Anda bakal merasakan kebebasan ketika berhasil menaikan limit kartu kredit tersebut, atau justru mendapatkan kartu kredit baru. Ini berkaitan dengan persepsi jangka pendek dan jangka panjang. “Memang benar Anda menambah utang, namun anda justru merasa memiliki sumber daya yang tersedia untuk Anda, dan pemikiran itu melegakan beberapa orang,” kata Kelly. Hati-hati dengan ilusi jangka pendek ini, dan pertimbangkan biaya di jangka panjang ketika meningkatkan limit kartu kredit, menambah kartu baru, bahkan membeli sesuatu dengan kredit.
Ciptakan “otot pengendalian diri”. Roy Baumeister, seorang spikolog sosial di Florida State University, baru-baru ini mempelajari disiplin mental dengan menggelar penelitian dan menunjukan bahwa kita harus memiliki energi yang kuat untuk mengendalikan diri. Dengan kata lain, kemampuan Anda untuk menahan keinginan berbelanja lama kelamaan bisa kelelahan. Namun anda tetap bisa memberikan dorongan. “Catat semua pengeluaran harian dengan menuliskan semuanya, dan pikirkan benar-benar angka yang menjadi hasil akhir,” ujar Kelly. “dengan melakukan hal tersebut dapat secara efektif melatih, dan dengan demikian memperkuat otot pengendalian diri Anda.”
Jangan berbelanja saat sedang ‘down’. Sebuah penelitian yang dimuat pada Journal of Experimental Social Psychology, menunjukkan bahwa kita senang berbelanja barang-baranag yang dapat menaikkan status, dan membeli barang mahal dengan kredit, terutama saat ego kita terancam – hal ini bisa disebabkan berbagai hal, dari melihat berita buruk di teve, sampai tidak mendapatkan promosi dalam pekerjaan. “Penjelasan ekonomi – bahwa orang membeli barang-barang mahal karena ingin mendapatkan sinyal positif tentang diri mereka terhadap orang lain – masih belum lengkap,” ujar penulis penelitian tersebut, Niro Sivanathan, asisten profesor perilaku berorganisasi di London Business School. Walau demikian, penelitian Niro menunjukkan tindakan membeli tiket mahal adalah untuk membuat si pembeli merasa nyaman. Namun, penulis juga menemukan obatnya: Ketika partisipan merefleksikan nilai-nilai yang nmenurut mereka penting, seperti hubungan kekeluargaan, kesehatan, dan eksistensi diri, keinginan untuk membeli barang-barang bagus menurun.
Hati-hati dengan sikap masa bodoh. Istilah lain dari sikap ini adalah “violation response”, dan intinya ini adalah kecenderungan untuk berbelanja lebih banyak untuk membuat seseorang merasa lebih baik karena berutang. “Sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin Anda kewalahan, semakin anda merasa berbelanja dapat membuat perasaan lebih baik,” ujar Kelly. Tentu saja ini adalah lingkaran setan, karena penyesalan sesudah belanja menyebabkan stres. “Itu sebabnya sangat penting untuk memperhatikan respon Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan tujuan keuangan Anda. Bila Anda lebih memperhatikan dorongan emosional, maka Anda akan dapat menahan diri untuk membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak Anda perlukan,” tegas Kelly.
Sumber
01.14 | Label: Keuangan | 0 Comments
Cara Menghitung Nilai Kekayaan Bersih
Menjadi orang kaya tentu merupakan idaman banyak orang. Ukuran kaya bagi setiap orang juga relatif. Di kampung saya misalnya, jika seseorang sudah mempunyai rumah besar, sawah yang luas. mobil, perhiasan emas, perabot rumah tangga yang lengkap dan pakaian bagus dalam jumlah yang cukup maka orang tersebut sudah dianggap sebagai orang kaya. Dalam perspektif ini maka saya sudah termasuk orang kaya menurut anggapan tetangga di kampung saya(maaf saya bukan berpretensi seperti itu~sekedar menggambarkan pendapat mereka). Tetapi mungkin tak sedikit orang kota yang berkata dalam hati:”Masa rumah dan mobil jenderal hanya begitu”(termasuk kata salah seorang sahabat se-angkatan)
- Rumah senilai Rp. 2,500.000.000
- Sawah senilai Rp.100.000.000
- Mobil senilai Rp. 115.000.000
- Tabungan di bank Rp.100.000.000
- Perhiasan emas (milik isteri) senilai Rp. 185.000.000
Dengan demikian kekayaan bersih saya sebesar Rp 2. 988.000.000
.
- Gaji bulanan, pengeluaran bulanan, sisa/kekurangan anggaran
- Asset yang saya miliki dan hutang.
- Telah memiliki tabungan yang cukup (Saving ratio)
- Pengeluaran bulanan yang bisa saya tutup (Liquidity ratio)
- Apakah saya dapat membayar hutang saya ((Debt to asset ratio)
- Apakah saya perlu mengumpulkan asset untuk perlindungan jangka panjang (Invested assets ratio)
Berdasarkan hal-hal yang saya uraikan di atas maka saya dapat mengambil kesimpulan bahwa:
- Penghasilan riil saya sebulan tidak bisa menutup kebutuhan hidup sehari-hari dalam bulan yang sama untuk jangka waktu 6 bulan kedepan.
- Untuk menutup kekurangan saya masih bisa memanfaatkan tabungan, termasuk untuk pengeluaran darurat.
- Dalam waktu 6 bulan hutang kartu kredit saya akan lunas, dengan demikian maka dana yang tersedia setiap bulan akan bertambah.
- Kekayaan bersih saya masih cukup untuk memberikan proteksi jangka menengah.
Sumber
01.14 | Label: Keuangan | 0 Comments
Anda Terjebak Utang Kalau...
Mengakui bahwa Anda terlilit utang ternyata bukan hal yang simpel. Mungkin karena gengsi – bagi banyak orang dan budaya berutang dianggap hal yang tidak layak, atau memang karena Anda merasa benar-benar tidak punya masalah dengan utang yang menggunung.Kenyataannya, semakin lama Anda menolak mengakui memiliki masalah dengan utang, semakin dalam Anda tenggelam di kubangan utang. Sehingga, pada saat utang menggunung, Anda pun tenggelam di bawahnya. Pada saat itu justru jalan-jalan yang bisa meringankan beban utang Anda seakan buntu.
Coba baca daftar di bawah ini. Bila kebanyakan jawaban Anda ‘Iya’, maka Anda sudah terjebak di kubangan utang, dan segeralah mencari pertolongan:
- Tagihan kartu kredit Anda membumbung tinggi sementara penghasilan Anda berkurang.
- Anda hanya mampu membayar tagihan minimum utang kartu kredit, atau bahkan di bawah minimum.
- Anda mulai berakrobat dengan membuka utang baru untuk menutupi utang lama.
- Anda punya banyak sekali kartu kredit.
- Tagihan semua kartu kredit sudah mendekati limit atau bahkan over limit.
- Penggunaan kartu kredit Anda tiap bulan melebihi apa yang bisa Anda bayar.
- Anda sengaja lembur bekerja atau mencari pekerjaan sampingan untuk melunasi utang.
- Anda tidak tahu berapa jumlah utang Anda, dan tidak mau tahu.
- Anda mulai menerima panggilan telepon dari penagih atau surat peringatan dari kreditur.
- Anda memakai kartu kredit untuk membeli kebutuhan pokok seperti makanan dan bensin, bukan karena kenyamanan dan keamanan, melainkan tidak punya uang tunai.
- Anda mulai membongkar tabungan.
- Anda berbohong kepada pasangan tentang harga barang yang Anda beli.
01.13 | Label: Keuangan | 0 Comments