Bayar Kereta Commuter Bisa Pakai Mandiri e-Money, Brizzi dan BNI TapCash
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
(BRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) bekerjasama dengan
PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) dalam penggunaan uang elektronik
(e-money) untuk pembayaran tiket Kereta Commuter Line Jabodetabek.
Peresmian e-ticketing
tersebut dilaksanakan di Stasion Jakarta Kota, Senin, 16 Juni 2014 oleh
Direktur Bisnis Konsumer BRI A. Toni Soetirto, Direktur Micro and Retail Banking
Bank Mandiri Hery Gunardi, Direktur Konsumer & Ritel BNI Darmadi
Sutanto, serta Direktur Utama PT KCJ Tri Handoyo dan Direktur IT PT KAI
(Persero) Kuncoro Wibowo.
Lewat penggunaan kartu prabayar Mandiri
e-money, Brizzi dan BNI TapCash dari ketiga bank tersebut, diharapkan
masyarakat lebih dimudahkan dalam melakukan transaksi pembelian tiket
kereta. Adapun rute kereta commuter line Jabodetabek yang dikelola oleh KCJ menghubungkan kota di Jabodetabek.
Tri Handoyo yakin, sinergi BUMN mengenai implementasi e-ticketing ini merupakan upaya meningkatkan pelayanan kepada para penumpang kereta commuter line
Jabodetabek dengan memberikan kemudahan dan kecepatan bertransaksi
dengan uang elektronik, sehingga semakin banyak masyarakat yang memilih
transportasi umum sebagai transportasi sehari-hari.
“Saat ini ada
sekitar 640 ribu pengguna jasa KRL di Jabodetabek, dan 60% di antaranya
telah menggunakan tiket berlangganan Kartu Multi Trip (KMT) dan
e-money,” tukasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Toni Soetirto
mengatakan, jenis kartu prepaid Brizzi yang diimplementasikan di sistem
e-ticketing KCJ, di samping sebagai alat pembayaran di KCJ kartu ini
juga terintegrasi sebagai media bayar di transportasi umum lainnya
seperti Transjakarta, TransJogja, Batik Solo Trans, Trans Pekanbaru.
Sementara Darmadi Sutanto menjelaskan, dengan adanya kerjasama di KCJ ini diharapkan dapat membantu program Less Cash Society (LCS) yang diusung Bank Indonesia dan penerapan single card untuk transportasi publik di Jakarta.
“Karena selain dapat digunakan di kereta commuter line Jabodetabek, juga dapat digunakan di Transjakarta dan merchant-merchant bertanda TapCash lainnya,” tuturnya.
Sumber
10.44 | Label: Berita | 0 Comments
Budaya Uang Tunai Hambat Penerapan Less Cash Society
Upaya Bank Indonesia (BI) mendorong transaksi nontunai di Tanah Air
terbentur perilaku masyarakat yang masih terbiasa transaksi dengan
menggunakan uang tunai.
“Untuk itu BI luncurkan program less cash society.
Uang tunai kalau bisa berkurang hebat, baru Swedia yang bisa. Ini
melambat saja sudah bagus,” ujar Deputi Direktur Kebijakan dan
Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Yura A. Djalins, di Jakarta, Rabu, 11
Juni 2014.
Ia menegaskan, bahwa untuk mendorong program less cash society, pihaknya fokus mengembangkan instrumen e-money yang aturannya telah diperbarui, termasuk menghapuskan batas minimal transaksi dari Rp50 ribu jadi nol rupiah.
“Kalau kartu kredit itu bukan good fund
(karena dananya adalah pinjaman), ada risikonya. Akhir tahun lalu kita
sudah perketat penerbitan kartu kredit akibat risikonya yang cukup
besar,” tuturnya.
Sementara untuk kartu debit, lanjut Yura, cenderung sudah lebih populer namun secara karakter berbeda dengan e-money yang memang didesain untuk memudahkan masyarakat melakukan transaksi bernominal kecil atau receh.
“Lalu berulang-ulang dan digunakan secara massal. Kaya utk transportasi,” imbuhnya.
Setiap
tahun, bank sentral mengeluarkan biaya sekitar Rp2 triliun untuk
pengadaan dan distribusi uang tunai ke seluruh wilayah Indonesia.
Sedangkan transaksi e-money masih jauh diminati, dengan nominal
rata-rata transaksi harian sebesar Rp7,7 miliar pada April 2014.
Padahal dari data BI, ada sekitar 30,5 juta instrumen e-money
yang beredar di masyarakat, namun volume transaksinya hanya sebesar
13,48 juta. Bila dipukul rata satu instrumen satu transaksi dalam
sebulan, maka setengah dari instrumen yang beredar tak digunakan sama
sekali.
Sumber
10.43 | Label: Berita | 0 Comments
Bunga Deposito Bank Semakin Tinggi
Terbatasnya dana pihak ketiga (DPK) dari masyarakat membuat
persaingan suku bunga simpanan di industri perbankan semakin kencang.
Tarik-menarik dana masyarakat ini membuat nasabah mencari bank mana yang
menawarkan bunga deposito lebih tinggi.
“Ada nasabah mau
menyimpan dana di bank, jika bunga simpanan mencapai 10%-12%,” ujar
Ekonom Universitas Gadjah Mada, Tony Prasetiantono, di Jakarta, Senin,
16 Juni 2014.
Menurutnya, hal tersebut karena kondisi likuiditas
yang ketat ini membuat nasabah yang memiliki dana besar memiliki
kemampuan tawar lebih besar untuk meminta bunga tinggi kepada bank.
Hal
ini terkait dengan kebijakan likuiditas ketat yang diambil Bank
Indonesia, dengan memancang suku bunga acuan (BI rate) di angka 7,5%.
Sementara indikator pengetatan likuiditas adalah dengan lebih tingginya
suku bunga penjaminan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS rate)
ketimbang BI rate. Saat ini LPS rate (untuk simpanan rupiah di bank
umum) dipatok di angka 7,75%.
“BI rate itu untuk menunjukkan visi
BI terhadap kebijakan likuiditas yang diambil. Tinggi untuk pengetatan,
dan rendah untuk melonggarkan. Sedangkan LPS rate itu menunjukkan
respon pasar,” tutur Tony.
Sumber
10.41 | Label: Berita | 0 Comments
Kolaborasi Bank-Telko Gairahkan Penetrasi e-Money
Kerja sama industri perbankan dengan industri telekomunikasi dalam memasyarakatkan uang elektronik (e-money), dinilai bisa meningkatkan nilai tambah produk atau instrumen yang digadang-gadang menjadi kunci dari Layanan Keuangan Digital (LKD).
Deputi
Direktur Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Yura A. Djalins
menjelaskan, bahwa perizinan LKD sendiri adalah izin untuk menerbitkan e-money, karena produk inilah yang akan dijadikan andalan untuk menjangkau masyarakat di seluruh pelosok daerah.
“Sekarang kalau nggak punya e-money gimana? Jadi mereka harus punya produk (untuk LKD),” ujarnya, usai diskusi mengenai e-money, di Jakarta, Rabu, 11 Juni 2014.
Bank Indonesia (BI) memang memiliki cita-cita pengembangan instrumen e-money
bisa menjadi jawaban dari perluasan akses keuangan secara menyeluruh
kepada masyarakat, atau yang lebih populer digaungkan dengan Program
Financial Inclusion. Layanan yang akan dikedepankan BI adalah LKD.
Demikian, bank sentral membuka ruang bagi industri telekomunikasi (telco) untuk turut serta merealisasikan program nasional tersebut. Seperti diketahui, dari 17 penerbit e-money yang enam di antaranya adalah bank, BI juga memberikan izin kepada industri nonbank termasuk kepada perusahaan telekomunikasi.
“Ada dua isu besar saat ini, financial inclusion dan less cash society. Harus ada collaborative approach antara industri telekomunikasi dan perbankan. Maju bersama dengan win win solution,” sambung Direktur Utama Telkomsel Alex J. Sinaga.
Setali tiga uang, Chief of Digital Services XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan, bahwa telco memiliki aset yang cukup potensial untuk digunakan mengembangkan e-money
sesuai cita-cita BI. Saat ini, menurutnya, ada sekitar 290 juta
subscriber atau nomor handphone yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan
jangkauan lebih jauh ke dalam masyarakat ketimbang hanya mengandalkan
penetrasi perbankan.
“Juga outlet distribusi yang sudah
menusantara. Tantangannya bagi telco memang seberapa prudent untuk
menjalankan ini. Juga dalam mengikuti standarisasi perbankan,” katanya.
Sumber
09.02 | Label: Berita | 0 Comments
Kembangkan e-Money, BI Larang Kerja Sama Eksklusif Dua Pihak
Bank Indonesia (BI) menegaskan akan segera merilis surat edaran untuk aturan penyelenggaraan uang elektronik (e-money), yang salah satunya mengarahkan setiap penerbit untuk meniadakan kerjasama secara eksklusif dengan pihak tertentu.
Deputi Direktur Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Yura A. Djalins mengatakan, dalam petunjuk pelasaksana aturan tersebut dari sisi industri, izin yang semula tidak terbatas akan dibuat terbatas maksimal lima tahun dan bisa diperpanjang.
“Lalu tidak ada kerja sama ekslusif (antara penerbit dengan pihak tertentu), jadi persaingan terbuka,” tukasnya dalam diskusi mengenai e-money, di Jakarta, Rabu, 11 Juni 2014.
Seperti diketahui, PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk dan PT Jasa Marga (Persero) menjalin kerja sama eksklusif
untuk pembayaran jalan tol menggunakan e-Toll Card Mandiri sampai 2018.
Kekhususan kerjasama ini bahkan sempat “disentil” Darmin Nasution, kala
menjabat Gubernur Bank Indonesia, agar dibuka sehingga bisa lebih
banyak instrumen e-money dari penerbit lain yang bisa digunakan.
“Kita sudah sempurnakan PBI (Peraturan Bank Indonesia mengenai e-money), agar ada upgrade teknologi sehingga tidak bisa dibajak. Kita juga hapus biaya minimum yang tadinya Rp50 ribu, sekarang nol,” imbuh Yura.
Selain itu, lanjutnya, penggunaan e-money juga akan diperluas tidak hanya terbatas untuk transaksi langsung, tapi juga bisa untuk transfer
dana dan tarik tunai. Bagi bank yang masuk kategori Bank Umum Kegiatan
Usaha (BUKU) 4 dengan modal inti minimal Rp30 triliun, bank sentral
bahkan memercayakan pengembangan e-money lebih besar lagi.
“Bank BUKU 4, dengan modal inti minimal Rp30 triliun bisa gunakan agen (individu), sebagai perpanjangan tangan bank untuk transaksi tadi, tarik tunai,” tukas Yura.
Sumber
09.00 | Label: Berita | 0 Comments
Telko Mengeluh Aturan e-Money Untungkan Bank BUKU 4
Aturan penyelenggaraan produk dan kegiatan uang elektronik (e-money)
yang membuka seluruh akses bagi bank dalam kategori Bank Umum Kegiatan
Usaha (BUKU) 4 dengan modal sedikitnya Rp30 triliun dikeluhkan industri
telekomunikasi.
“Tantangannya bagi telco memang seberapa prudent untuk menjalankan ini (e-money). Juga dalam mengikuti standarisasi perbankan,” ujar Chief of Digital Services XL Axiata, Dian Siswarini, dalam diskusi e-money, di Jakarta, Rabu, 11 Juni 2014.
Menurutnya, ada dua hal yang sangat penting untuk mendukung kemajuan e-money di Tanah Air. Yang pertama adalah ekosistem yang luas, di mana aturan main melarang transaksi e-money melalui agen nonbadan hukum sehingga menyebabkan keterbatasan jumlah lokasi.
“Kami
(telco) tidak seperti bank BUKU 4 yang bisa gunakan agen perorangan.
Kami tawarkan solusi kolaborasi dengan bank dalam pemanfaatan
infrastruktur (ATM dan agen pulsa),” tukas Dian.
Sementara
yang kedua, lanjutnya adalah kemudahan registrasi. Saat ini ia mengaku,
pihaknya mengalami keterbatasan infrastruktur untuk pengumpulan dokumen
kertas. Sehingga, registrasi secara elektronik diharapkan bisa menjadi
solusi memperluas penggunaan e-money kepada masyarakat.
“Ini hambatan yang kami temui setelah menjalankan e-money selama tahun (XL Tunai),” tutur Dian.
Dalam penyempurnaan aturan e-money yang dirilis Bank Indonesia,
bank-bank BUKU 4 memang diperbolehkan memanfaatkan seluruh aspek yang
dimiliki untuk bisa mengembangkan instrumen uang elektronik, termasuk
penggunaan agen individu untuk penyebarluasan aksesnya.
“Bank BUKU 4, dengan modal inti minimal
Rp30 triliun bisa gunakan agen (individu), perpanjangan tangan bank
untuk transaksi tadi, tarik tunai,” ucap Deputi Direktur Kebijakan dan
Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Yura A. Djalins.
Sumber
08.59 | Label: Berita | 0 Comments
Terkait e-Money, BI Kedepankan Pemain Lokal
Bank Indonesia (BI) menegaskan dukungannya terhadap para penerbit uang elektronik (e-money)
di dalam negeri, dengan menahan serbuan pemain-pemain asing yang memang
melirik potensi bisnis besar dari instrumen pembayaran ini.
“BI
memperkuat industri domestik. Intinya kita mau perkuat, kalau dilepas
bablas begitu saja pasti kalah,” ujar Deputi Direktur Kebijakan dan
Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Yura A. Djalins, di Jakarta, Rabu, 11
Juni 2014.
Bank sentral mencatat saat ini ada 17 penerbit e-money
di Indonesia, dengan jumlah instrumen sekitar 30 juta dan rata-rata
transaksi harian sebesar Rp7,7 miliar selama bulan April. Adapun dari
jumlah penerbitnya, sebanyak 6 penerbit merupakan bank, sementara
sisanya berasal dari industri nonbank termasuk perusahaan
telekomunikasi.
“Jadi e-money, masih berjuang. Untuk
mencapai Rp10 miliar per hari saja belum. Kita sekarang belum membuka
(untuk pemain asing), yang ada sekarang masih kecil sekitar Rp8 miliar
per hari, kalau terlalu banyak juga kan nanti tidak sehat,” tandas Yura.
Sumber
08.59 | Label: Berita | 0 Comments
BI Curhat Bikin Uang Logam Pasti Hilang
Bank Indonesia (BI) menilai keberadaan uang elektronik (e-money)
sangat penting untuk menekan biaya pengadaan uang kartal, utamanya uang
logam yang tak pernah ditukarkan kembali ke bank sentral.
“Uang
logam tidak kembali ke BI, bikin terus hilang. Entah di masyarakat itu
ragu-ragu untuk simpan atau memang bank-nya tidak mau terima. Yang pasti
kita tak pernah dapat penukaran uang logam. Jadi kita bikin lagi, bikin
lagi,” tukas Deputi Direktur Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran
BI, Yura A. Djalins, di Jakarta, Rabu, 11 Juni 2014.
Menurutnya,
biaya untuk pengadaan uang kartal selama setahun, baik untuk menyetak
sampai distribusi, bisa mencapai Rp2 triliun. Dari sisi pertumbuhannya
pun masih cukup tinggi karena penggunaan uang tunai di masyarakat yang
masih dominan.
“Jadi biaya tidak kecil. Apalagi pertumbuhan masih
tggi, tumbuh 13% pada 2013. Turun dari 17% pada 2012, akibat ekonomi
yang melambat,” tutur Yura.
Dominasi transaksi uang tunai di Indonesia, katanya, menjadi tantangan yang dihadapi saat ini, dan bagaimana bank sentral berupaya mendorong transaksi nontunai lewat program less cash society, dengan mengandalkan produk e-money.
“Uang tunai kalau bisa berkurang hebat, baru Swedia yang bisa. Ini melambat saja sudah bagus,” pungkasnya.
Sumber
08.57 | Label: Berita | 0 Comments
E-Money Bisa Tekan Risiko Kerugian Operasional
Bank Indonesia (BI) terus menekankan pentingnya penggunaan uang elektronik atau e-money bagi kehidupan sehari-hari. Selain bisa melakukan penghematan untuk transaksi bernilai kecil, e-money juga bisa mengurangi risiko kerugian.
“Biaya
uang kartal, cetak, distribusi, dan lain-lain sekitar Rp2 triliun per
tahun. Jadi biaya tidak kecil,” ujar Deputi Direktur Kebijakan dan
Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Yura A. Djalins, di Jakarta, Rabu, 11
Juni 2014.
Selain penghematan dari sisi pengadaan dan penggunaan uang kartal, lanjutnya, penggunaan e-money
diharapkan bank sentral bisa mendorong masyarakat untuk terbiasa
melakukan transaksi nontunai. Transaksi tunai sendiri, dari aspek hukum
memang masih rawan untuk digunakan untuk aktivitas yang kurang baik
seperti kegiatan kriminal dan terorisme karena transaksinya tidak
tercatat.
Sementara untuk aktivitas ritel, terutama bagi para merchant,
penggunaan uang tunai dinilai bisa menekan kerugian dari risiko
operasional karena semakin sedikit jumlah uang tunai di mesin kasir.
Direktur Utama Telkomsel, Alex J. Sinaga mengatakan, penggunaan e-money untuk menekan biaya.
“Termasuk untuk mengurangi risiko dirampok, kalau cash register-nya lebih sedikit uang cash-nya. Juga dari sisi tenaga kerja. Jadi ini akan memberikan efisiensi biaya,” tuturnya.
Sumber
08.56 | Label: Berita | 0 Comments
Sepanjang 2013, Laba Asuransi Umum Naik 7,7%
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia
(AAUI) mencatat laba asuransi umum selama 2013 mengalami kenaikan
sebesar 7,7% dari Rp5,8 triliun pada 2012 menjadi Rp6,3 triliun.
Pertumbuhan tersebut diharapkan mendukung kinerja perusahaan asuransi
umum pada 2014.
Wakil Ketua Bidang Statistik,
Informasi dan Analisa AAUI, Dadang Sukresna mengatakan, sebanyak 69
perusahaan asuransi umum mampu membukukan laba positif pada 2013 dan 8
perusahaan asuransi umum di antaranya membukukan laba negatif.
“Dan, ada sebanyak 38 perusahaan asuransi umum yang mencatat pertumbuhan laba di tahun 2013″, kata Dadang, dalam acara press conference laporan kinerja Asuransi, di Kantor Pusat AAUI, Jakarta, Selasa, 10 Juni 2014.
Sementara
itu, selama 5 tahun terahkir asuransi umum juga mencatat peningkatan
modal sendiri sebesar Rp40,5 triliun. Pertumbuhan ini juga diikuti oleh peningkatan modal setor, yakni mencapai Rp13,6 triliun selama 2013.
Selain
itu, lanjut Dadang, sepanjang 2013 telah terjadi peningkatan dana
investasi dan hasil investasi. Hasil investasi meningkat menjadi Rp4,5
triliun pada 2013, atau mengalami kenaikan dari 2012 yang sebesar Rp3,3
triliun. “Investment yield tercatat sebesar 8,2%, atau tertinggi dalam 5 tahun terahkir”, jelas Dadang.
Sumber
08.30 | Label: Berita | 0 Comments
Perbankan Diminta Transparan Soal Komisi Bancassurance
“Transparansi supaya nasabah bisa melakukan pilihan dengan informasi yang lengkap. Intinya itu,” ujar Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan Nelson Tampubolon, di Jakarta, Selasa, 10 Juni 2014.
Ia menilai keterbukaan informasi perihal komisi bancassurance tak akan menjadi persoalan bagi perbankan. Nelson menganggap hal ini sama saja dengan keterbukaan informasi mengenai suku bunga dasar kredit atau bunga deposito.
“Bagi nasabah dia bisa bandingkan. Kan bagi dia pilihan-pilihan itu bisa lebih fair (adil),” tukasnya.
Selain penting bagi kepentingan nasabah, keterbukaan informasi mengenai komisi bancassurance juga dinilai bisa mendorong persaingan yang sehat.
Sumber
08.30 | Label: Berita | 0 Comments
Asuransi Umum Catat Premi 2013 Sebesar Rp23,4 Triliun
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat premi neto industri asuransi umum selama 2013 sebesar Rp23,4 triliun (audited). Angka ini mengalami pertumbuhan sebesar 21,8% bila dibandingkan pertumbuhan premi neto sebesar Rp19,2 triliun pada 2012.
Ketua
AAUI Ahmad Fauzie Darwis mengatakan, untuk premi bruto, industri
asuransi membukukan pertumbuhan sebesar 18,9% atau menjadi sebesar
Rp40,6 triliun pada 2013. Angka tersebut terbilang mengalami pertumbuhan
bila dibandingkan pada 2012 yang sebesar Rp34,3 triliun.
“Dengan
pertumbuhan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa industri asuransi umum
di Indonesia telah meningkatkan kapasitas bisnisnya”, kata Fauzie, di
Kantor Pusat AAUI, Jakarta, Selasa, 10 Juni 2014.
Adapun klaim
neto yang dicatatkan oleh AAUI selama 2013 mengalami kenaikan sebesar
22,3% menjadi Rp12,7 triliun, atau mengalami pertumbuhan bila
dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp10,4 triliun.
Sedangkan
untuk klaim bruto, AAUI mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,3% atau
menjadi sebesar Rp18 triliun pada 2013. Angka tersebut mengalami
peningkatan dibandingkan pada 2012 yang sebesar Rp17,5 triliun.
Sumber
08.29 | Label: Berita | 0 Comments
Kehadiran BPJS Picu Kinerja Asuransi Kesehatan Minus
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia
(AAUI) mengungkapkan, penurunan premi lini usaha kesehatan yang sebesar
minus 1,2% terjadi karena kehadiran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) di awal 2014. Namun, lini usaha tersebut diperkirakan masih
mendominasi premi industri asuransi umum di Indonesia.
Premi lini
usaha kesehatan tumbuh negatif, yakni pada kuartal I-2013 tercatat
sebesar Rp1,342 triliun. Sedangkan kuartal I-2014 hanya menjadi Rp1,326
triliun, atau tumbuh minus 1,2%.
Wakil Ketua Bidang Statistik,
Informasi dan Analisa AAUI, Dadang Sukresna tidak memungkiri bahwa
kehadiran BPJS saat ini telah memberikan dampak pada perolehan premi
lini usaha kesehatan. Dampaknya adalah premi lini usaha kesehatan
mengalami penurunan.
“Pengaruh BPJS jelas ada dan memberikan
dampak pada perolehan premi kesehatan. Beberapa perusahaan juga sudah
mengakuinya”, kata Dadang, di Kantor Pusat AAUI, Jakarta, Selasa, 10
Juni 2014.
Dadang menjelaskan, penurunan premi tersebut
dikarenakan banyak para pemegang polis di perusahaan asuransi umum
menghentikan laju polisnya, dan berpindah menjadi nasabah BPJS
Kesehatan.
Kendati demikian, Dadang memperkirakan bahwa lini usaha asuransi kesehatan
masih tetap tumbuh hingga 2014. Pertumbuhan ini terjadi lantaran
kebutuhan masyarakat mengenai asuransi kesehatan masih besar, dan akan
terus mengalami pertumbuhan seiring tingkat kesadaran masyarakat tentang
asuransi.
“Kita masih melihat asuransi kesehatan menjadi 3
besar, yakni setelah lini usaha kendaraan bermotor, lini usaha harta
benda, lalu berikutnya adalah lini usaha kesehatan”, tandas Dadang.
Sumber
08.29 | Label: Berita | 0 Comments
BI Sayangkan Swasta dan BUMN Belum Melakukan Hedging
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo menyayangkan
beberapa perusahaan baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
yang belum melakukan lindung nilai (hedging).
Oleh sebab itu, bank sentral terus mengingatkan kepada perusahaan swasta maupun BUMN untuk lebih cermat menggunakan fasilitas hedging.
Agus merasa sedih, pasalnya, pada beberapa perusahaan yang pada 2012
mencatat keuntungan Rp3 triliun, namun pada 2013 mengalami kerugian
hingga Rp19 triliun karena tidak melakukan hedging.
“Sedih
rasanya perusahaan-perusaahan tersebut untung, tapi menelan kerugian
yang besar pada tahun berikutnya, karena tidak melakukan hedging.
Banyak yang terjadi seperti itu, perusahaannya jadi tertekan,” ujarnya,
di Gedung Thamrin, kawasan perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Senin
26 Mei 2014.
Hal tersebut sejalan dengan pelaku industri keuangan
baik swasta maupun BUMN yang belum melakukan hedging. Padahal, tugas
utama industri keuangan adalah mengelola kinerja perusahaan dengan baik,
yakni dengan meningkatkan lindung nilai.
Selain itu, dirinya pun
berharap, agar perusahaan-perusahaan tersebut bisa meningkatkan
transaksi keuangan di Indonesia dan menjaga membengkaknya utang luar
negeri Indonesia yang saat ini mencapai Rp3.138,55 triliun. “Hubungi
nasabahnya, ingatkan nasabahnya yang punya risiko sehingga nanti menjadi
yang terbaik juga buat perusahaan,” tukasnya.
Agus menambahkan, banyak perusahaan BUMN yang belum mau melakukan hedging meski memang ada beberap yang sudah melakukannya. “Masih banyak BUMN yang tidak melakukan hedging. Tapi saya sambut baik beberapa bank besar mengajurkan melakukan hedging ke beberapa nasabah korporasinya tapi itu belum semuanya,” tutupnya.
Sumber
10.02 | Label: Berita | 0 Comments
Presiden Terpilih Diminta Perbaiki Tata Kelola Perpajakan
Forum Pajak Berkeadilan
meminta komitmen Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden
(Cawapres) 2014 ini untuk menempatkan perpajakan sebagai prioritas utama
dalam agenda kerja mereka ketika sudah terpilih.
Demikian pernyataan ini
disampaikan oleh Peneliti Kebijakan Publik Perkumpulan Prakarsa, yang
juga anggota Forum Pajak Berkeadilan, Ah Maftuchan, dalam siaran persnya
di Jakarta, beberapa waktu lalu.
“Perlu agenda reformasi kebijakan perpajakan guna mendorong perbaikan tata kelola perpajakan di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya,
komitmen ini harus dibuktikan dengan tindakan sukarela untuk membuka
SPT Pajak para Capres dan Cawapres sebagai bentuk transparansi dan
itikad awal sebagai pemimpin bangsa yang memiliki komitmen memperbaiki
sektor perpajakan.
“Selain itu diharapkan mereka juga turut serta mengajak warga negara untuk aktif dan sukarela membayar pajak,” ucap Maftuchan.
Lebih
lanjut dia menambahkan, meski secara aturan Undang-Undang (UU) No.16
tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) Pasal
34 data SPT Pajak dari Wajib Pajak merupakan data rahasia.
Namun, dia menilai, bahwa itikad moral dari calon pemimpin sangat penting dan bisa menjadi teladan bagi warga negara kedepan dalam hal kepatuhan membayar pajak.
Sumber
09.56 | Label: Berita | 0 Comments
Pengamat: Percepat Konsolidasi Perbankan
Tantangan perbankan nasional memasuki ASEAN Banking Integration Framework
2020 semakin besar jika kondisi konsolidasi perbankan masih saja
berjalan sangat lambat seperti saat ini. Apalagi jika melihat
pesaing-pesaing bank nasional di luar negeri sangat besar bila dilihat
dari sisi jumlah asetnya.
Kondisi ini menjadikan bank-bank
regional sangat mudah merebut pangsa pasar yang ada mengingat aset
perbankan Tanah Air sangatlah kecil. Saat ini pangsa pasar perbankan
nasional masih dikuasai bank-bank besar hingga mencapai kisaran 70%.
“Untuk itu konsolidasi sangat penting, karena konsolidasi bisa menjadikan perbankan sangat kuat,” kata Chief Economist Bank Mandiri, Destry Damayanti, saat ditemui Infobank, di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin, 9 Juni 2014.
Destry
menuturkan, saat ini jumlah perbankan di Tanah Air telah mencapai 120
bank. Dari 120 bank tersebut, sebanyak 100 bank berada di posisi buku I
dan buku II. Artinya, pada fase ini, mayoritas bank-bank lokal cuma
punya modal minim.
Jika bank besar seperti Bank Mandiri dan Bank BRI
dijadikan satu saja, jumlah asetnya masih jauh kalah besar jika
dibandingkan dengan aset Bank DBS dan OCBC asal Singapura. Begitu juga
jika dibandingkan dengan Maybank dan CIMB asal Malaysia.
Seperti
diketahui, per September 2013, aset Bank Mandiri tercatat hanya mencapai
USD60,7 miliar dan Bank BRI sebesaar USD50,9 miliar. Sementara jika
melihat bank-bank regional seperti DBS telah memiliki aset USD319,8
miliar, OCBC USD255,7 miliar, MayBank USD166,7 miliar dan aset CIMB mencapai USD113,7 miliar.
Jika
membandingkan jumlah perbankan Tanah Air dengan negara-negara tetangga
sendiri, jumlah bank di Indonesia sangatlah banyak. Berdasarkan data Bloomberg
per September 2013, jika bank di Indonesia ada 120 bank, di Malaysia
hanya ada 8 bank. Bahkan, di Singapura total bank yang ada hanya
mencapai 3 bank saja.
Sumber
09.55 | Label: Berita | 0 Comments
Bayar Blue Bird Bisa Pakai Kartu Kredit Mandiri
Untuk meningkatkan kemudahan dan kenyamanan pengguna taksi dalam melakukan pembayaran, Bank Mandiri bekerja sama dengan PT Blue Bird memasang mesin Electronic Data Capture (EDC) di seluruh armada taksi Blue Bird.
Penandatanganan
perjanjian kerjasama ini dilakukan oleh Direktur Utama Bank Mandiri
Budi G. Sadikin dan Direktur Utama Blue Bird Grup Purnomo Prawiro di
Jakarta, Senin (5/5/2014).
Direktur Utama Bank Mandiri Budi
G.Sadikin menjelaskan, kerjasama ini sejalan dengan keinginan perseroan
untuk memacu bisnis di segmen electronic banking serta memenuhi kebutuhan masyarakat atas alat pembayaran yang nyaman, cepat dan handal.
“Melalui
kerjasama dengan para pelaku utama di sektor transportasi massal, kami
berharap masyarakat akan semakin mengetahui kehandalan produk Bank
Mandiri saat bertransaksi. Saat ini, kami telah bekerjasama dengan
Transjakarta dan Taxi untuk memfasilitasi proses pembayaran dengan
menggunakan kartu Mandiri,” kata Budi.
Pada tahap awal,
diharapkan 1.000 unit taksi Blue Bird di wilayah Jakarta sudah dapat
memanfaatkan alat pembayaran tersebut pada akhir Mei 2014. Budi
mengharapkan, pada awal tahun 2015 seluruh armada taksi Blue Bird yang
beroperasi di berbagai wilayah Indonesia telah dilengkapi dengan mesin
EDC Mandiri.
Dengan kerjasama ini, pengguna taksi Blue Bird dapat
membayar dengan menggunakan kartu kredit, kartu debit, kartu prepaid
Mandiri, dan Mandiri e-Cash.
Sementara
itu, Direktur Utama Blue Bird Group Purnomo Prawiro mengatakan, di usia
Blue Bird yang ke 42 tahun, Blue Bird Group senantiasa meningkatkan
layanan kepada semua pelanggan Blue Bird Group melalui inovasi-inovasi
demi kepuasan pelanggan.
Hingga Maret 2014, Blue Bird Group
memiliki armada taksi yang tersebar di seluruh Indonesia, sebanyak
29.000 armada, dengan 15.000 armada di antaranya berada di Jabodetabek.
Melayani lebih dari 8,5 juta pelanggan setiap bulannya di seluruh
Indonesia.
Informasi saja sampai triwulan pertama 2014, Bank
Mandiri telah memasang mesin EDC sebanyak 240.468 unit di Tanah Air.
Jumlah ini naik 24 persen dibanding Maret 2013. Sementara jumlah kartu
kredit, kartu debit, dan kartu prepaid yang telah diterbitkan Bank
Mandiri tercatat masing-masing sebanyak 3 juta kartu, 10 juta kartu, dan
3,6 juta kartu.
Adapun volume transaksi electronic banking
Bank Mandiri pada Januari – Maret 2014, mencapai Rp 19,2 Triliun,
tumbuh 30 persen dari periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini
ditopang oleh segmen retail yang mencapai 53 persen dari total volume
transaksi triwulan I – 2014 sebesar Rp 10,2 triliun.
Sumber
09.25 | Label: Berita | 0 Comments
Pemerintah Akan Jaring 60.000 PNS Baru Tahun Ini
Wakil Menteri (Wamen) Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Eko Prasojo mengatakan untuk tahun anggaran 2014 ini
pemerintah merencanakan akan merekrut sebanyak 60.000 Pegawai Negeri
Sipil (PNS) dan 40.000 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja
(PPPK).
“Rekrutmen calon PPPK akan diumumkan bersamaan dengan
pembukaan pendaftaran calon PNS,” kata Eko seperti dikutip dari laman
Sekretariat Kabinet RI, Selasa (6/5/2014).
Eko mengungkapkan, berbeda dengan PNS, untuk perekrutan PPPK tidak ada batas. “Sejauh memiliki kompetensi, dan organisasi membutuhkan, ada kesempatan untuk mendaftar sebagai PPPK,” ujar dia.
Dibukanya
keran bagi masuknya SDM aparatur dari PPPK selain pegawai PNS,
lanjutnya, merupakan terobosan kebijakan pemerintah dalam penataan
birokrasi. “PPPK dapat membuat fleksibilitas dan mengubah DNA
atau gen dalam birokrasi. Selain itu, PPPK juga mampu memacu adrenalin
dalam birokrasi dan menumbuhkan citra baru bahwa orang yang ingin
mengabdi pada negara tidak harus berstatus sebagai PNS,” papar Eko.
Menurutnya,
antara PNS dan PPPK hampir semuanya sama, kecuali NIP dan pensiun. Ia
menyebutkan, dalam perjanjian kerja bagi PPPK, akan dituliskan klausul
mengenai jaminan pensiun, yang bekerja sama dengan Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS).
“Dalam
perjanjian juga dicantumkan, apabila negara mengalami krisis ekonomi,
maka yang pertama kali terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) adalah
PPPK,” ujar dia.
Sumber
09.23 | Label: Berita | 0 Comments
Masuk 10 Besar Ekonomi Dunia, RI Sejajar dengan Negara Maju
“Indonesia ditempatkan oleh Bank Dunia sebagai negara ke-10 dengan Product Domestic Bruto (PDB) terbesar dari 177 negara berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP). Hanya ada tiga negara Asia yang masuk dalam kategori 10 besar itu, yaitu Tiongkok, India, dan Indonesia,” kata Firmanzah melalui surat elektroniknya dari Washington DC, Amerika Serikat, Senin (5/5/2014), seperti dikutip dari situs Sekretariat Kabinet hari ini.
Firmanzah mengatakan, ekonomi terbesar nomor satu masih ditempati Amerika Serikat (AS), yang diikuti oleh Tiongkok, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brasil, Perancis, dan Inggris. Namun, ranking Bank Dunia ini sekaligus menunjukkan besaran GDP berdasar PPP, Indonesia lebih besar dari Meksiko, Italia, Belanda, Korea Selatan, dan Australia.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu mengemukakan, ada lima faktor yang menjadi penyebab utama Indonesia masuk 10 negara terbesar itu, yaitu:
1. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan sustainable
2. Berjalan baiknya sejumlah kebijakan pengendalian inflasi dalam 5-8 tahun terakhir
3. Percepatan pembangunan infrastruktur dan industrialisasi juga meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan multiplier effect ke sektor ekonomi lainnya
4. Masifnya program pemberdayaan dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) sangat membantu tingkatkan purchasing power dan sektor riil
5. Stabilitas politik, keamanan, dan ketertiban juga terus terjaga dan semakin baik.
“Kelima sektor inilah yang membuat ekonomi terus tumbuh dan meningkatnya daya beli masyarakat sehingga ekonomi domestik terus ekspansif,” ucap Firmanzah.
Firmanzah menyebutkan, indikasi keberhasilan ekonomi Indonesia juga bisa dibaca dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (2/5/2015) yang secara umum menunjukkan tren yang positif dan sinyal afirmatif atas penguatan fundamental ekonomi yang terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
“Penguatan fundamental ekonomi nasional di tengah proses penyelenggaraan pemilu dan sejumlah tekanan eksternal merupakan refleksi kapasitas ekonomi dan bekerjanya sejumlah instrumen kebijakan ekonomi yang telah ditempuh selama ini,” terangnya.
Firmanzah menguraikan laporan BPS periode April 2014, tercatat terjadi deflasi sebesar 0,02 persen setelah pada Maret tercatat inflasi sebesar 0,08 persen. Dengan deflasi 0,02 persen pada April 2014, maka inflasi tahun kalender Januari-April 2014 tercatat sebesar 1,39 persen dan inflasi secara tahunan (yoy) sebesar 7,25 persen.
“Terkendalinya kinerja inflasi sepanjang Januari-April 2014 merupakan bagian dari upaya pengendalian yang terus dilakukan pemerintah baik dari sisi pasokan maupun pengendalian harga, khususnya komoditas yang berdampak langsung bagi ekonomi rumah tangga menengah ke bawah (khususnya pangan),” kata Firmanzah. Sumber
09.22 | Label: Berita | 0 Comments
Indeks Daya Saing Global Indonesia Peringkat 38 Dunia
Forum Ekonomi Dunia (WEF)
dalam laporannya yang bertajuk “The Global Competitiveness Report
2013-2014” atau laporan daya saing global mengumumkan kenaikan posisi
Indonesia dari 50 pada tahun 2012/2013 menjadi posisi 38 pada tahun
2013/2014.
“Ada kenaikan 12 poin pada posisi Indonesia, dan ini
tertinggi kenaikannya dalam sejarah. Ada kontribusi pendidikan juga di
dalamnya,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad
Nuh seperti dikutip dari laman Sekretariat Kabinet RI, Minggu
(4/5/2014).
Nuh menjelaskan, pengukuran yang dilakukan WEF
selain menghitung indeks daya saing global, juga mengukur indeks
pembangunan manusia, MDGs, dan pendidikan untuk semua.
“Pengukuran
tersebut digunakan sebagai salah satu alat ukur kinerja, dengan melihat
hubungan antara daya saing dengan pendidikan,” ujar dia.
Lebih
lanjut, Nuh mengungkapkan, terdapat tiga hal yang memiliki pengaruh
besar dalam kenaikan peringkat Indonesia. Mulai dari inovasi, pendidikan
tinggi dan pelatihan, dan kesiapan teknologi.
Dari ketika indikator tersebut, lanjut Nuh, daya saing Indonesia lebih tinggi dari rata-rata daya saing negara-negara kategori ‘efficiency-driven economy’, atau negara dengan pendapatan perkapita 3.000 hingga 8.999 dollar AS.
Sumber
09.22 | Label: Berita | 0 Comments